Kamis, 12 November 2015

Etika Protestan dan Spirit Kapitalisme (Max Weber)

Dalam Etika Protestan dan Semangat Kapitalisme, Weber mengajukan tesis bahwa etika dan gagasan-gagasan Puritan telah mempengaruhi perkembangan kapitalisme. Namun demikian, defusi keagamaan biasanya disertai dengan penolakan terhadap urusan-urusan duniawi, termasuk pengejaran akan harta kekayaan. Weber mendefinisikan semangat kapitalisme sebagai gagasan dan kebiasaan yang menunjang pengejaran keuntungan ekonomi secara rasional. Weber menunjukkan bahwa semangat seperti itu tidaklah terbatas pada budaya Barat bila hal itu dipandang sebagai sikap individual, namun bahwa upaya individual yang heroik demikian ia menyebutnya tidak dapat dengan sendirinya membentuk suatu tatanan ekonomi yang baru (kapitalisme). Kecenderungan-kecenderungan yang paling umum adalah keserakahan akan keuntungan dengan upaya yang minimal dan gagasan bahwa kerja adalah suatu kutukan dan beban yang harus dihindari khususnya ketika hasilnya melebihi dari kebutuhan untuk kehidupan yang sederhana. Manusia didominasi oleh keinginan untuk mendapatkan uang melalui akuisisi sebagai tujuan utama hidupnya. Akuisisi ekonomis tidak lagi menjadi subordinat sebagai cara-cara manusia dalam memuaskan kebutuhan materialnya. Menurut Weber inilah esensi dari spirit kapitalisme modern (Giddens dalam Weber, 2006: XXXV). Menurut Weber akan sangat keliru jika kita beranggapan bahwa kegiatan mengumpulkan kekayaan untuk kepentingan atas kesenangan duniawi adalah sebuah pengenduran nilai-nilai moralitas. Pandangan bagus ini pada dasarnya adalah moral itu sendiri; yang menuntut adanya disiplin dari diri sendiri. Para pengusaha yang diasosiasikan dengan pengembangan kapitalisme rasional ini justru bisa memadukan rangsangan akumulasi kekayaan dengan gaya hidup hemat secara positif. Calvinisme menurut Weber menyuplai energi dan dorongan moral bagi para wirausahawan kapitalis. Weber mengungkapkan doktrin-doktrin calvinisme memiliki konsistensi besi dalam disiplin habis-habisan yang dituntut dari para pengikutnya. Doktrin calvinisme berbunyi; hanya beberapa orang yang terpilih yang bisa diselamatkan dari kutukan, dan pilihan itu sudah ditetapkan jauh sebelumnya oleh Tuhan. Weber melihat pemenuhan etika Protestan bukan dalam Lutheranisme, yang ditolaknya lebih sebagai sebuah agama hamba, melainkan dalam bentuk Kekristenan yang Calvinis. Dalam pengertian yang sederhana "paradoks" yang ditemukan Weber adalah: Menurut agama-agama Protestan yang baru, seorang individu secara keagamaan didorong untuk mengikuti suatu panggilan sekular dengan semangat sebesar mungkin. Seseorang yang hidup menurut pandangan dunia ini lebih besar kemungkinannya untuk mengakumulasikan uang. Namun, menurut agama-agama baru ini (khususnya, Calvinisme), menggunakan uang ini untuk kemewahan pribadi atau untuk membeli ikon-ikon keagamaan dianggap dosa. Selain itu, amal umumnya dipandang negatif karena orang yang tidak berhasil dalam ukuran dunia dipandang sebagai gabungan dari kemalasan atau tanda bahwa Tuhan tidak memberkatinya. Cara memecahkan paradoks ini, demikian Weber, adalah menginvestasikan uang ini, yang memberikan dukungan besar bagi lahirnya kapitalisme. Pada saat ia menulis esai ini, Weber percaya bahwa dukungan dari etika Protestan pada umumnya telah lenyap dari masyarakat. Khususnya, ia mengutip tulisan Benjamin Franklin, yang menekankan kesederhanaan, kerja keras dan penghematan, namun pada umumnya tidak mengandung isi rohani (dikutip dari http://id.wikipedia.org/wiki).

Senin, 09 November 2015

Pahlawanku

Kau adalah sosok yang rela mengorbankan waktumu
Rela menumpahkan darah
Rela mempertaruhkan nyawa
Demi anak cucumu

Kau adalah sosok yang memiliki semangat juang tinggi
Jiwamu yang terbakar semangat
Berjuang melepaskan Indonesia dari tangan penghancur bangsa

Kau adalah sosok yang setia kepada negeri ini
Hanya bermodalkan bambu runcing di tangan
Namun mampu merobohkan penjajah negeri ini

Kau yang kini terbaring di tanah bumi pertiwi
Tergeletak, bersemayam di kubur
Namun semangatmu masih hidup
Tertanam kuat dalam jiwa muda generasi penerusmu

Terima kasih pahlawanku
Selamat Hari Pahlawan, 10 Nopember 1015

Sabtu, 19 September 2015

Mengenal Lapisan Sosial Masyarakat Bugis Wajo



Masyarakat Sulawesi Selatan agak ketat memegang adat yang berlaku, utamanya dalam hal pelapisan sosial. Pelapisan sosial masyarakat yang tajam merupakan suatu ciri khas bagi masyarakat Sulawesi Selatan (Mattuada, 1997). Sejak masa pra Islam masyarakat Sulawesi Selatan sudah mengenal stratifikasi sosial. Di saat terbentuknya kerajaan dan pada saat yang sama tumbuh dan berkembang secara tajam stratifikasi sosial dalam masyarakat Sulawesi Selatan.

Startifikasi sosial ini mengakibatkan munculnya jarak sosial antara golongan atas dengan golongan bawah. Pada suku Bugis (masyarakat bugis) menganut tiga tingkatan sosial. Ketiga tingkatan sosial itu adalah : Ana’ Arung, To Maradeka dan Ata. Ketiga tingkatan sosial yang dianut oleh suku yang terbesar di Sulawesi Selatan ini masing-masing memiliki bahagian-bahagian.

Lapisan teratas adalah Ana’ Arung. Suku Bugis mengenal Ana’ Arung atas dua tingkatan sosial, yaitu Ana’ Jemma dan Ana’ Mattola. Tingkatan yang disebut pertama adalah anak bangsawan yang lahir pada saat ayahnya memerintah/menjadi raja. Anak ini menjadi pewaris dari kerajaan. Sedangkan tingkatan yang disebut berikutnya adalah anak bangsawan dari raja yang lahir sebelum atau sesudah ayahnya memerintah.

Ana’ Mattola terdiri dari tiga tingkatan sosial, yaitu Ana’ Mattola Matase, Ana’ Mattola Malolo dan Ana’ Cera’. Ana’ Mattola Matase adalah anak yang lahir dari hasil perkawinan ayah dan ibu dari tingkatan sosial yang sama. Ana’ Mattola Malolo adalah anak yang lahir dari perkawinan ayah yang lebih tinggi darah kebangsawanannya dari pada ibunya. Sedangkan Ana’ Cera’ adalah anak yang lahir dari perkawinan antara seorang bangsawan dengan orang biasa.

Lapisan kedua, To Maradeka adalah orang yang tidak diperbudak oleh orang lain. Lapisan ini terdiri atas dua lapisan, yaitu To Baji (orang baik) dan To Samara (orang biasa). Sedangkan lapisan ketiga, Ata, terbagi kepada dua lapisan, yaitu. Ata Mana’ dan Ata Taimanu. Lapisan pertama adalah budak turun temurun sejak nenek moyangnya, jika mereka mempunyai keturunan maka keturunan tersebut menjadi budak lagi dari orang yang memperbudaknya. Lapisan kedua adalah golongan budak yang paling rendah dan dianggap paling hina, karena yang memperbudaknya adalah To Maradeka.

Era modern sekarang ini dasar penentuan stratifikasi sosial pada masyarakat bugis umumnya dan khususnya di Kecamatan Belawa Kabupaten Wajo dapat dikatakan sudah tidak berdasar pada ascribed status, yakni status yang diperoleh dari kelahiran. Namun lebih kepada achieved status yakni status yang diperoleh melalui usaha-usaha yang dilakukannya dan assigned status yakni kedudukan yang diberikan karena adanya sesuatu hal yang berjasa dilakukan kepada masyarakat.

Masyarakat bugis di Kecamatan Belawa Kabupaten Wajo penentuan stratifikasi sosial lebih kepada kepemilikan harta dan tingkat pendidikan serta prestise yang diperoleh dari usaha-usaha yang dilakukannya. Seseorang yang memiliki harta banyak maka akan memperoleh kedudukan tinggi dalam masyarakat, sebaliknya mereka yang memiliki harta sedikit atau tidak ada akan memperoleh kedudukan rendah. Begitupun seseorang yang memperoleh kedudukan diposisi pemerintahan, memiliki gelar pendidikan yang tinggi seperti professor, doktor, dan sebagainya, atau mereka yang memiliki profesi-profesi yang dipandang tinggi oleh masyarakat seperti dokter, polisi, tentara, dosen dan lainnya. Kedudukan-kedudukan tersebut dalam masyarakat berada pada posisi atas.

Sekarang setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk mengenyam pendidikan. Dengan memiliki pengetahuan, mereka bisa merebut posisi dan menjadi terpandang di masyarakat. Begitu pun dengan stratifikasi sosial, menjadi kabur dan mengalami degradasi nilai. Akibatnya pola pandangan masyarakat tidak lagi terpaku dengan status yang diperoleh melalui keturunan. Mereka lebih mengutamakan peranan dan fungsi seseorang dalam masyarakat melalui prestasinya. Dengan demikian pelapisan sosial antara anak bangsawan dengan masyarakat biasa mulai berkurang dan stratifikasi sosial yang lama sering dianggap sebagai hambatan untuk kemajuan.

Perubahan pola stratifikasi sosial terjadi karena konsep feodalisme perlahan-lahan mulai ditinggalkan. Disamping itu masyarakat lebih berpikir rasional dalam setiap aktivitas yang dilakukannya. Perkembangan zaman yang begitu cepat membuat sebagian masyarakat menjadi tertinggal karena tak mampu mengikuti arus modernisasi. Begitu pun dengan dinamika sosial, bagi mereka yang mampu tampil dalam pentas modernisasi (berpikir modern) maka merekalah yang mendapat posisi tinggi dalam lapisan sosial.

Pada dasarnya stratifikasi sosial masyarakat Kecamatan Belawa Kabupaten Wajo itu selalu bersifat terbuka, hal ini didasarkan atas sifat keterbukaan dan nilai-nilai demokrasi yang berafiliasi dengan falsafah hidup masyarakat Wajo, yakni salah satunya adalah sebagai berikut:

”Maradeka to wajoe, najaiang alena maradeka, tana’emi ata, naiya tau makketanae maradeka maneng”, artinya Orang-orang Wajo, adalah orang merdeka, mereka merdeka sejak dilahirkan, hanya negeri mereka yang abdi, sedangkan si pemilik negeri (rakyat) merdeka semua dan hanya hukum adat yang disetuji bersama yang mereka pertuan.

Dalam falsafah hidup tersebut tampak jelas bahwa ada sebuah keterbukaan, ada kebebasan untuk bertindak karena masyarakat Wajo mengakui dan menjunjung tinggi hak kemanusiaan.

Minggu, 13 September 2015

Ritual 'Maccera Tappareng' Warga Pesisir Danau Tempe


Rombongan menyusuri danau melakukan ritual

(Doc: WT-EP Sept 2015)

Siapa lagi yang belum mengenal danau tempe? Danau Tempe salah satu destinasi wisata alam di Indonesia, tepatnya berada di sebelah barat Kabupaten Wajo Propinsi Sulawesi Selatan. Tepatnya di Kecamatan Tempe, Kecamatan Belawa, Kecamatan Tanasitolo, Kecamatan Maniangpajo dan Kecamatan Sabbangparu, sekitar 7 kilometer dari kota Sengkang menuju tepi Sungai Walanae.

Danau Tempe yang luasnya sekitar 13.000 hektare ini memiliki spesies ikan air tawar yang jarang ditemui di tempat lain. Hal ini karena danau tersebut terletak di atas lempengan Australia dan Asia .

Danau ini merupakan kebanggan masyarakat Wajo. Banyak masyakarat Wajo, Soppeng dan Sidrap yang menggantungkan penghidupannya pada Danau Purba ini. Selain terkenal dengan keindahannya danau penghasil ikan air tawar ini juga memiliki banyak kearifan lokal yang terus dijaga kelestariannya.

Salah satu kegiatan rutin dan mengundang perhatian tiap tahunnya adalah kegiatan adat dalam bahasa bugis mereka menyebutnya Maccera Tappareng (Mensucikan Danau) yang kemudian dalam perkembangannya dikemas dalam suatu festival danau tempe.

Proses ritual Maccera Tappareng dimulai di malam hari dimana warga pesisir danau tempe mulai membunyikan alat tradisional genderang (Maggendrang), hingga tiba dini hari. Warga melanjutkan ritual ke danau bersama tetua adat melepas beberapa sesajen pada titik-titik yang dianggap sakral, selain itu tetua adat juga melepaskan sesaji ke tengah danau.

Sesaji yang dimaksud terdiri dari  Sokko Patanrupa (penganan dari ketan empat warna), Kelapa Muda, Telur ayam (Rebus dan Mentah), Ikan, Pisang, dan Ayam yang masih hidup, puncaknya saat tetua adat melepaskan kepala kerbau.

Ritual ini ditandai dengan pemotongan sapi, yang dipimpin oleh tetua kampung dan Macua Tappareng bersama warga dipesisir danau tempe. Semua Peserta ritual Maccera Tappareng memakai baju bodo (baju adat bugis).

Ikhtisar kegiatan ini dilakukan sejak dulu hingga menjadi festival tahunan adalah perwujudan rasa syukur atas segala berkah dan rezki yang di peroleh di danau tempe khususnya setahun terakhir. Acara "Maccera Tappareng" atau menyucikan danau merupakan acara paling sakral dalam festival tersebut.

Festival Danau Tempe tiap tahunnya sangat meriah karena disertakan beberapa pertunjukkan seni tradisional yang menjadi budaya masyarakat bugis dan potret kehidupan di pesisir danau tempe yang diikuti oleh beberapa kabupaten sekitar. Diantaranya diadakannya lomba-lomba tradisional yakni:
- Lomba Balap Perahu Dayung Tradisional
- Lomba Layang-layang Tradisional & Kreasi
- Lomba ma Longga
- Lomba Gassing
- Lomba Panjat Pinang
- Lomba Mappadendang

Kegiatan ini mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Wajo melalui Dinas Pemuda, Olahraga, Budaya dan Pariwisata (Disporabudpar) bersama masyarakat pesisir danau tempe sebagai bentuk pelestarian budaya, promosi wisata, hiburan dan edukasi untuk masyarakat.

Sumber:
Wajoterkini.com
Http://id.m.Wikipedia.org

Senin, 20 Juli 2015

Aguste Comte: Pemikiran tentang perbedaan budaya dan masyarakat

Hasil gambar untuk budaya dan masyarakat zaman auguste comte
Aguste Comte
SosiologiUntukIndonesia.blogspot.com ----Comte melihat masyarakat sebagai suatu keseluruhan organik yang kenyataannya lebih daripada sekedar jumlah bagian-bagian yang saling tergantung, tetapi untuk mengerti kenyataan ini, metode penelitian empiris harus digunakan dengan keyakinan bahwa masyarakat merupakan suatu bagian dari alam seperti halnya gejala fisik. Andreski berpendapat, pendirian Comte bahwa masyarakat merupakan bagian dari alam dan bahwa memperoleh pengetahuan tentang masyarakat menurut penggunaan metode-metode empiris dari ilmu-ilmu alam lainnya. Merupakan sumbangan yang tak terhingga nilainya terhadap perkembangan sosiologi.
Comte dengan hokum tiga tahapnya merupakan usaha Comte untuk menjelaskan kemajuan evolusioner umat manusia dari masa primitive sampai ke peradaban Perancis abad kesembilanbelas yang sangat maju. Hukum itu menyatakan bahwa masyarakat-masyarakat (umat manusia) berkembang melalui tiga tahap utama yang ditentukan menurut cara berfikir dominan: teologis, metafisik, dan positif.
Comte menjelaskan hukum tiga tahap sebagai berikut: dari studi perkembangan mengenai intelegensi manusia, disegala penjuru dan melalui segala zaman, penemuan muncul dari suatu hukum dasar yang besar, … inilah hukumnya: - bahwa setiap konsepsi kita yang paling maju - setiap cabang pengetahuan kita – berturut-turut melewati tiga kondisi teoritis yang berbeda: teologis atau fiktif, metafisik atau abstrak, ilmiah atau positif. Pikiran manusia menggunakan tiga metode berfilsafat yang karakternya sangat berbeda dan malah sangat bertentangan. Pertama merupakan titik tolak yang harus ada dalam pemahaman manusia. Kedua merupakan keadaan peralihan dan Ketiga merupakan pemahaman dalam keadaannya pasti dan tak tergoyahkan.
Dalam fase teologis, akal budi manusia, yang mencari kodrat dasar manusia, yakni sebab pertama dan sebab akhir (asal dan tujuan) dari segala akibat (semua gejala dihasilkan oleh tindakan langsung dari hal-hal supernatural). Dalam fase metafisik, dimana akal budi mengandaikan bukan hal supernatural melainkan kekuatan-kekuatan abstrak, hal-hal yang benar-benar nyata melekat pada semua benda (abstraksi-abstraksi yang diprsonifikasikan), dan yang mampu menghasilkan semua gejala …… Dalam fase positif, akal budi sudah meninggalkan pencarian yang sia-sia terhadap pengertian-pengertian absolute, asal dan tujuan alam semesta, serta sebab-sebab gejala dan memusatkan perhatiannya pada studi tentang hukum-hukumnya-yakni hubungan-hubungan urutan dan persamaannya yang tidak berubah. Penalaran dan pengamatan, digabungkan secara tepat, merupakan sarana dan pengetahuan ini.
Dalam perkembangannya, Comte mulai khawatir akan terjadinyakehancuran basis untuk kemajuan yang mantap. Untuk mengatasi masalah dan tetap mempertahankan keteraturan sosial, dimana Comte kembali melihat sejarah dan dia mengakui agama sebagai tonggak keteraturan sosial karena agama merupakan dasar “consensus universal’ dalam masyarakat dan agama juga mendorong identifikasi emosional individu dan meningkatkan altruism. Akhirnya, Comte mendirikan suatu agama baru yakni agama humanitas yang dianggap dapat mengatasi masalah tersebut.
Pandangan Comte mengenai transisi dari masyarakat militer ke industry sudah jelas mengandung implikasi perubahan dalam kebudayaan materil. Terutama munculnya industrialism tergantung pada kemajuan teknologi, dan kemajuan dalam teknologi mencerminkan perubahan dalam kebuadayaan materil. Dimana Sorokin juga menyinggung kemajuan teknologi dan melimpahnya materi secara meningkat yang mungkin dihasilkannya. Sorokin memandang kebudayaan materil sebagai wahana perwujudan mentalitas budaya non materil. Berarti bahwa analisa tentang kebudayaan materil berkisar pada arti-arti budaya yang disimbolkan atau diwujudkan dalam bentuk-bentuk materil, seperti karya-karya seni dan arsitektur. Jelasnya bahwa Comte dan Sorokin melihat kebudayaan materil sebagai sesuatu yang bergantung pada kebudayaan non materil.


Sumber bacaan: Teori Sosiologi Klasik&Modern. Paul Johnson, Doyle. 1986.

Rabu, 08 Juli 2015

MENGHADAPI MASA DEPAN


Dalam dunia yang kian kompleks akibat perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi menyebabkan terjadinya perubahan luas dan mendasar dalam setiap aspek kehidupan manusia. Mau tidak mau, bisa atau tidak, manusia dituntut dapat dan harus beradaptasi dengan kondisi kekinian.
Tuntutan untuk terus mempertahankan diri dari cengkraman kehidupan yang kian hari kian menjekit. Yang mana pada mulanya orang berpikir kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi akan membawa kemudahan, kemakmuran dan kebahagian bagi seluruh umat manusia. Apabila kemajuan itu dipergunakan untuk kesejahteraan manusia, dimana kecanggihan teknologi mempermudah aktivitas manusia dalam kehidupan sehari-hari. Namun realitanya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi justru menimbulkan masalah-masalah baru yang sukar untuk diatasi.
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dapat merubah manusia itu sendiri. Munculnya industrialisasi mengakibatkan urbanisasi, melemahkan bahkan melenyapkan pengaruh tradisi atau adat istiadat, mengubah hubungan sosial, bahkan melenyapkan identitas diri manusia itu sendiri. Manusia tidak lagi berkuasa atas dirinya, melainkan dikuasai oleh daya-daya di luar dirinya. Manusia diukur dengan nilai uang untuk prestasinya.
Demi keselamatan dunia, manusia harus bisa, siap dan belajar untuk mengatasi segala tantangan, rintangan dan hambatan dalam menghadapi masa depan. Mempersiapkan manusia menghadapi masa depan merupakan tugas pendidikan, pihak terkait dan diri individu sendiri tentunya.
Apalagi jika melihat kondisi sekarang dimana sifat individualistik sangat jelas. Lagi-lagi kaum borjuis terus mulai nampak dan menindas kaum proletariat, jelas ini sudah terjadi sejak dulu. Segala cara dilakukan untuk meraih pundi-pundi rupiah, yang kaya semakin kaya dan miskin semakin miskin. Korupsi merajalela berbagai modus dan motif melakukan tindakan korupsi yang sudah dapat disebut sebagai tindakan kejahatan. Dan masih banyak lagi persoalan kekinian yang tak dapat disebutkan satu persatu.
Kembali pada tatanan kehidupan yang semakin kompleks, tentunya dsini manusia harus semakin jeli membaca kondisi dan terus update agar dapat bertahan diri dalam menata masa depan. Seperti yang dikutip dari Rolloy May bahwa cara paling efektif mencapai masa depan yang cerah adalah dengan menatap masa kini secara berani dan konstruktif. Bagaimana manusia bisa bertindak berani dalam menghadapi masa kini, yang tentunya berawal dari mulai bangun tidur, bahkan ada yang mengatakan bahwa sebelum tidur pun kita sudah harus memulainya, yakni mempunyai mimpi-mimpi yang akan diwujudkan hari esok. Jadi pada waktu bangun esok harinya sudah ada target yang akan dicapai pada hari ini. Nah disini menggambarkan bagaimana hari itu dimulai dengan semangat yang menggebu-gebu dalam mengawali hari karena itu akan menentukan kesuksesan target yang direncanakan.
Terus memiliki keyakinan hari ini akan ada banyak pengalaman baru daripada hari kemarin. Akan ada perjalanan yang penuh dengan kenangan. Tentunya tidak akan ada pengalaman baru tanpa ada interaksi dan komunikasi. Komunikasi pertama dilakukan dengan diri sendiri, pahami diri kita, sebenarnya hari ini kita mau apa saja dan arahnya kemana. Disini teringat perkataan seseorang disuatu tempat seperti ini hidupmu kamu sendiri yang menentukan arah dan jalan akan dilewati. Nah setelah benar-benar memahami diri kita, langkah selanjutnya adalah mempersiapkan senjata alias alat untuk mencapai target itu dan alat yang paling ampuh adalah komunikasi.
Komunikasi kedua adalah dengan orang-orang yang ada di sekitar kita. Terutama mereka yang ada kaitan dengan target yang diinginkan. Misalnya seorang yang menginginkan beasiswa, maka dekati orang-orang yang berkecimpung di dunia itu ataukah seorang yang ingin jadi kepala wilayah misalnya jadi bupati maka dia harus membangun komunikasi yang baik dengan orang-orang bisa jadi peluncurnya di lapangan, menarik simpati hati warga agar dipilih nantinya, setelah terpilih komunikasi terabaikan dan janji dilupakan, wah itu lain lagi ceritanya.
Kembali ke laptop, komunikasi yang terbangun haruslah diamati dan dipelajari hal-hal yang diperoleh ketika berkomunikasi, dan sebisa mungkin lakukan hal-hal yang sekiranya baik, Insya Allah akan mendatangkan hasil baik pula.
Menghadapi masa depan adalah hal yang semua orang bisa karena semua orang punya keberanian, hanya saja sangat sedikit orang yang bisa mengeluarkan keberanian secara keseluruhan. Jadi, yakinlah dalam diri kita bahwa kita termasuk orang yang pemberani. Usahakan ada kegiatan rutin yang menunjang dalam menghadapi masa depan, seperti membaca, menulis, komunikasi dan sebagainya. Dan itu anda sendiri yang lebih tahu. Paling penting adalah tidak muluk-muluk dalam menentukan target. Sesuaikan target itu dengan kekuatan dan kemampuan. Sedikit yang penting jalan dan terarah itu lebih baik daripada banyak tapi tidak terlaksana tidak sempurna.
Bagaimana dengan anda menghadapi masa depan? Apakah anda sudah memiliki target?

Korupsi merusak batang tubuh NKRI



Hasil gambar untuk korupsi
Korupsi sudah menjadi wabah penyakit dan ancaman bagi perkembangan kehidupan bangsa-bangsa di dunia. Seperti dikutip pendapat Sarah Lery Mboeik bahwa tindakan korupsi telah berakibat pada disharmoni dan disintegrasi bangsa, baik berdasarkan kelompok/golongan atau berdasarkan etnis dan semakin lebarnya jurang perbedaan sosial ekonomi antara berbagai lapisan masyarakat. Sedang menurut M. Mc Mullan, tindak korupsi berakibat pada tidak efisiennya pelayanan pemerintah kepada masyarakat, ketidakadilan dalam kehidupan bernegara, terjadi pemborosan sumber-sumber kekayaan negara, rakyat tidak mempercayai pemerintah dan terjadinya ketidakstabilan politik.



Pada konteks Indonesia, sebagaimana S. Anawary bahwa korupsi sudah merambah kemana-mana menggerogoti batang tubuh Negara Kesatuan Republik Indonesia dan merusak sendi-sendi kebersamaan serta memperlambat tercapainya tujuan nasional seperti yang tercantum dalam Pembukaan Undang-undang Dasar 1945. Dari sini dapat ditelaah bagaimana korupsi tidak hanya pada penyalahgunaan keuangan negara namun juga penyalahgunaan kekuasaan dan kepercayaan untuk kepentingan pribadi.

Praktek korupsi yang terjadi di Indonesia berakibat pada tingginya angka kemiskinan, melonjaknya angka putus sekolah, meningkatnya pengidap gizi buruk, dan merebaknya persoalan kriminalitas serta pudarnya nilai moral manusia itu. Korupsi yang melahirkan OKB-OKB (Orang Kaya Baru) dan kelompok pendatang baru (New Arrive) untuk memperkaya diri sendiri. Praktek korupsi berbentuk kecurangan, penggelapan, penipuan, pemerasan, nepotisme, kolusi, kroni sampai sogok atau suap.

Masih ingatkah kalian dengan Gayus Tambunan? Nama yang sontak terkenal bak artis ketika Komjen Susno Duadji menyebutkan uang di rekening Gayus dengan jumlah fantastik dan diberankas bank atas nama istrinya tersimpan perhiasan bernilai milyaran. Berawal dari kecurigaan bahwa semua uang itu haram dan melalui proses yang panjang dan berliku-liku pada akhirnya Gayus pun dinyatakan bersalah atas kasus korupsi dan suap mafia pajak oleh Majelis Hakim Pengadilan Jakarta Selatan. Tak terlewatkan sosok Gayus Tambunan ini tercipta sebuah lagu dari mantan napi Bona Paputungan berjudul "Andai Aku Jadi Gayus Tambunan". Lagu ini pun menjadi populer diberbagai kalangan.

Masih banyak lagi kasus-kasus korupsi lainya baik berskala nasional, regional sampai lokal, yang bervolume besar maupun kecil. Ada yang sudah dapat dituntaskan, ada yang masih dalam proses penyelidikan dan ada yang belum terungkap bahkan ada dengan sengaja menutup mata melihat tindakan para koruptor dengan jelas sudah  merugikan negara dan rakyat.

Contoh kecil seperti oknum pimpinan suatu lembaga/instansi memanfaatkan jabatannya menggunakan fasilitas lembaga diluar kewajaran hanya untuk keperluan pribadi dan memperkaya diri sendiri. Seperti penggunaan mobil dinas untuk acara keluarga, ataukah melebihkan anggaran kantor dan lebihnya masuk kantong sendiri. Disatu pihak mereka  merasa hormat dan takjub akan kemewahan dan cara hidup para koruptor. Namun dibalik itu ada juga merasa dongkol terhadap tingkah laku mereka yang berlebihan. Praktek kecil lain berupa pungutan dalam bentuk denda razia kendaraan bermotor oleh oknum polisi, yang tidak jelas apakah masuk kas negara atau ke kocek oknum polisinya. Namun hal ini menjadi tabuh dan hanya didiamkan saja.

Korupsi sudah ada sejak dulu dan mulai mencuat ketika sudah ada pemisahan antara keuangan pribadi dan keuangan jabatan. Maraknya kasus korupsi didukung oleh kecanggihan teknologi. Era orde baru pemerintah cukup serius menanggapi korupsi, berbagai usaha dilakukan untuk menjebloskan koruptor ke penjara. Mulai pembentukan tim pemberantasan korupsi dan penyusunan undang-undang korupsi. Nyatanya, belum mampu memberikan efek jera yang lain. Koruptor junior terus bermunculan. Mati satu tumbuh seribu, kata pepatah.

Terakhir, era reformasi dibentuk Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Masyarakat pun memberikan penilaian positif kepada kinerja KPK yang dianggap cukup profesional dalam menangani kasus korupsi. Kerjanya tegas, sistematis dan mampu mempertahankan netralitas institusi untuk tidak pandang bulu menyelidiki pejabat diberbagai tingkat yang diduga terlibat korupsi. KPK juga tak lepas dari serangan dan terus dilemahkan oleh oknum tertentu yang tak senang dengan kehadirannya. Ketika pimpinan KPK berhasil mengungkap kasus-kasus korupsi, ketika itu juga petinggi KPK dilengserkan dengan dibuatkan skenario hukum, mau tidak mau mereka harus berhenti dari jabatannya. Sebut saja mantan ketua KPK Antasari Azhar dengan kasus tuduhan keterlibatan dalam pembunuhan Nasruddin Zulkarnaen, namun masih penuh teka-teki. Ada Abraham Samad, Bambang Widjojanto, Adnan Pandu Praja, Zulkarnain, tak lepas sebagai sasaran untuk dinonaktifkan dari KPK.

Mahasiswa pun turut andil menanggapi korupsi dengan emosi meluap-luap, turun ke jalan terus meneriakkan kritik dan mengutuk perbuatan koruptor yang telah merugikan bangsa dan negara. Namun kadang disayangkan aksi mereka justru lebih banyak berakhir dengan bentrok dengan pihak kepolisian dan masyarakat sendiri, serta merusak sejumlah fasilitas umum.

Memberantas korupsi bukan hanya tugas KPK, namun semua elemen harus turut berperan aktif. Tidak hanya pemerintah yang tegas dalam menghukum koruptor. Para pembuat peraturan perundang-undangan di gedung DPR/MPR agar membuat undang-undang antikorupsi yang efektif dan tepat sasaran. Tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh pendidik harus juga proaktif mensosialisasikan bahaya korupsi. Disamping itu peran media juga sangat dibutuhkan dengan melahirkan opini ke publik agar terpanggil memerangi korupsi. Rakyat pun diharapkan tidak hanya diam melihat kejahatan koruptor, rakyat harus jeli dan tanggap dalam menyikapi penyimpangan yang terjadi.

Dengan adanya sinergi dan komitmen yang kuat dari semua lapisan masyarakat, bukan tidak mungkin negara ini akan keluar dari lembah dan belitan korupsi. Negara ini akan menjadi Indonesia merdeka yang sesungguhnya.