Senin, 01 Juni 2015

Kerangka Dasar Penelitian Kualitatif

Kerangka penelitian merupakan model atau suatu bentuk penelitian yang dimana arah penelitian akan tampak pada kerangka penelitian. Berikut disajikan bentuk daripada kerangka dasar penelitian, yang terdiri dari empat bab sebagai berikut :
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pada bagian ini berisi penjelasan mengenai mengapa masalah dikemukakan dalam penelitian yang dianggap menarik, harus jelas bahwa masalah yang diteliti belum pernah diteliti ataukah kalau masalah itu sudah diteliti maka harus dijelaskan mengapa diteliti ulang. Masalah yang diangkat harus jelas substansi permasalahannya (akar permasalahan).

B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah merupakan pertanyaan-pertanyaan atas masalah yang diangkat. Rumusan masalah merupakan hal pokok dan terpenting sebelum melaksanakan penelitian. Dengan rumusan masalah maka peneliti akan fokus terhadap hal yang diteliti karena ada batasan studi sehingga penelitian berjalan sesuao tujuan. Rumusan masalah dapat pula disebut rumusan fokus. Rumusan masalah menjadi fokus dalam penelitian itu.

C. Tujuan Penelitian
Bagian ini berisi rumusan tentang tujuan umum dan atau tujuan khusus yang ingin dicapai dalam penelitian.

D. Manfaat Penelitian
Pada bagian ingin berisi manfaat hasil penelitian baik dalam pengembangan teori maupun aplikasi. Dalam bagian ini mampu menggambarkan bahwa hasil penelitian yang akan dicapai itu memiliki konstribusi terhadap perkembangan keilmuan sesuai dengan lingkup yang dikaji dan atau jalan keluar permasalahan dalam kehidupan.

E. Asumsi
Bagian ini tidak wajib ada. Asumsi merupakan pernyataan singkat tentang hubungan antar dua variabel atau lebih dirumuskan secara operasional dan bisa diuji secara empiris.

F. Landasan Teori
Bagian ini berisi teori-teori yang relevan dengan objek atau masalah yang diteliti. Biasanya bersumber dari buku, makalah ilmiah, jurnal, makalah seminar, artikel, undang-undang, hasil penelitian, serta informasi, dari media massa dan internet.

G. Metode Penelitian Metode penelitian merupakan cara yang digunakan untuk melakukan penelitian dalam hal pengembilan, pengolahan dan pengujian atau analisis dari data yang menyangkut permasalahan penelitian. Dalam metode peenlitian berisi antara lain jenis penelitian, sumber data, teknik pengumpulan data, teknik analisis, dan tahapan-tahapan penelitian.

BAB II GAMBARAN UMUM PENELITIAN
Pada bab ini berisi deskripsi berkaitan dengan objek penelitian, seperti lokasi penelitian, karakteristik objek penelitian, dan sebagainya.

BAB III ANALISIS OBJEK PENELITIAN
Pada bab ini penggambaran analisis objek penelitian yang sesuai dengan rumusan masalah dan teori-teori yang digunakan karena dalam bab ini dilakukan pembahasan dari hasil penelitian.

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN Ini merupakan bab terakhir dalam penulisan karya tulis. Dalam bagian kesimpulan dikemukakan secara singkat hasil dari apa yang telah diteliti. Dimana harus sesuai dengan rumusan masalah yang diangkat. Dengan kata lain kesimpulan menjawab atas pertanyaan pada rumusan masalah.
Sedang pada bagian saran berisi pernyataan yang memuat tentang pesan atau , asukan kepada pihak-pihak yang terkait dengan objek kajian yang diteliti. Saran juga bisa berupa himbauan bagi peneliti lain terkait dengan hal-hal yang perlu dikembangkan.

Selasa, 28 April 2015

SOSIOLOGI SEBAGAI ILMU PENGETAHUAN

Secara terminologi sosiologi berasal dari bahasa Yunani yakni kata socius dan logos. Socius artinya kawan, berkawan, ataupun bermasyarakat. Sedangkan logos artinya ilmu atau dapat juga berbicara tentang sesuatu. Dengan demikian secara harfiah , sosiologi dapat diartikan sebagai ilmu tentang masyarakat.
Ilmu pengetahuan merupakan pengetahuan yang tersusun secara sistematis dengan penggunaan kekuatan pemikiran, yang dapat diperiksa dan ditelaah secara kritis.
Adapun syarat ilmu sebagai berikut:
1. Rasional, artinya ilmu itu adalah sesuatu yang dapat dipertimbangkan dan diterima akal, dalam hal ini yang digunakan adalah indrawi.
2. Sistematis, berarti suatu ilmu itu tersusun sesuai dengan sistem atau tersusun dengan baik.
3. Bersifat umum, bahwa ilmu itu adalah pengetahuan yang dapat diterima dan diuji oleh siapa saja.
4. Kumulatif, berarti berkelanjutan.
Mengapa Sosiologi dianggap sebagai ilmu pengetahuan?
Bagi Aguste Comte, sosiologi merupakan ilmu pengetahuan kemasyarakatan umum yang merupakan hasil terakhir daripada perkembangan ilmu pengetahuan, oleh karena itu sosiologi didasarkan pada kemajuan-kemajuan yang telah dicapai oleh ilmu-ilmu pengetahuan lainnya. Lahirnya sosiologi dicatat pada 1842, tatkala Comte menerbitkan jilid terakhir dari bukunya yang berjudul Positive-Philosophy yang tersohor itu.
Sosiologi jelas suatu ilmu sosial yang objeknya adalah masyarakat. Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang berdiri sendiri karena telah memenuhi segenap unsur-unsur ilmu pengetahuan, yang ciri-ciri utamanya sebagai berikut:
1. Sosiologi sifat empiris, berarti ilmu pengetahuan tersebut didasarkan pada observasi terhadap kenyataan  dan akal sehat serta hasilnya tidak bersifat spekulatif.
2. Sosiologi bersifat teoritis, yaitu ilmu pengetahuan tersebut selalu berusaha untuk menyusun abstraksi dari hasil-hasil observasi. Abstraksi tersebut merupakan kerangka unsur-unsur yang tersusun secara logis serta bertujuan untuk menjelaskan hubungan-hubungan sebab akibat, sehingga menjadi teori.
3. Sosiologi bersifat kumulatif, berarti teori-teori sosiologi dibentuk atas dasar teori-teori yang sudah ada dalam arti memperbaiki, memperluas, serta memperhalus teori-teori yang lama.
4. Bersifat non-etis, yakni yang dipersoalkan bukanlah buruk baiknya fakta tertentu, akan tetapi tujuannya adalah untuk menjelaskan fakta tersebut secara analitis.
Sosiologi dianggap sebagai suatu ilmu pengetahuan, dimana sosiologi sudah memenuhi kriteria atau syarat suatu ilmu sebagaimana yang diterangkan sebelumnya. Apalagi sosiologi merupakan suatu ilmu pengetahuan yang dapat dipisahkan bahkan dapat dibedakan dengan ilmu sosial lainnya. Sosiologi yang memusatkan perhatiannya pada segi-segi masyarakat yang bersifat umum dan berusaha untuk mendapat pola-pola umum daripadanya. Sementara itu, apabila ditelaah dari sudut sifat hakikatnya maka dapat ditemui untuk menetapkan ilmu pengetahuan macam apakah sosiologi itu. Sifat-sifat hakikatnya:
1. Sosiologi adalah ilmu sosial, dan bukan merupakan ilmu alam, atau ilmu pengetahuan kerohanian.
2. Sosiologi bukan merupakan disiplin yang normatif akan tetapi adalah suatu disiplin yang kategoris, yaitu sosiologi membatasi diri pada apa yang terjadi dewasa ini dan bukan mengenai apa yang terjadi atau seharusnya terjadi.
3. Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan murni, bukan ilmu pengetahuan terapan.
4. Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang abstrak, bukan ilmu pengetahuan yang konkrit.
5. Sosiologi bertujuan untuk menghasilkan pengertian-pengertian dan pola-pola umum.
6. Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang empiris dan rasional.
7. Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang umum, bukan merupakan ilmu pengetahuan yang khusus.
Kesimpulan bahwa sosiologi adalah ilmu yang kategoris, murni, abstrak, berusaha mencari pengertian-pengertian umum, rasional dan empiris serta bersifat umum.

Sumber:
- Pengantar Ilmu Sosial, Dr. H. Dadang Supardan, M.Pd., 2007.
- Sosiologi Suatu Pengantar,  Prof. Dr. Soerjono Soekanto, S.H., M.A., 2003.
- Kamus Sosiologi Antropologi, M. Dahlan Yacub.

Senin, 27 April 2015

ARISTOTELES

Aristoteles lahir di Stagira, kota wilayah Chalcidice, Thracia, Yunani (dahulunya termasuk wilayah Makedonia Tengah) tahun 384 SM. Ayahnya adalah tabib pribadi Raja Amyntas dari Makedonia. Usia 17 tahun, Aristoteles bergabung menjadi murid Plato. Belakangan ini meningkat menjadi guru di Akademi Plato selama 20 tahun di Athena. Aristoteles meninggalkan Akademi tersebut setelah Plato meninggal dunia dan menjadi guru bagi Alexander dari Makedonia. Saat Alexander berkuasa di tahun 336 SM, ia kembali ke Athena. Dengan dukungan dan bantuan Alexander, ia mendirikan akedeminya sendiri yang diberi nama Lyceum, dipimpinnya sampai tahun 323 SM.
Filsafat Aristoteles berkembang pada waktu ia memimpin Lyceum, yang mencakup enam karya tulisnya yang membahas masalah logika, yang dianggap sebagai karya-karyanya yang paling penting, selain kontribusinya di bidang metafisika, fisika, etika, politik, kedokteran, dan ilmu alam.
Minat-minat Aritoteles tentang meliputi bidang alamiah dan manusia, termasuk didalamnya etika dan metafisika. Ia merupakan filsuf terkemuka dan terbesar. Asumsi ini dibuktikan berabad-abad melampaui zamannya. Sehingga tulisan-tulisannya merupakan basis filsafat alamiah hingga abad ke-17. Meskipun tetap terhindarkan adanya kesalahpahaman dan tulisannya pernah digunakan untuk menyusun dogma yang steril. Perbedaan pandangan dirinya dan Plato diawali oleh soal-soal mendasar.
Aritoteles menyatakan kritik tajam terhadap pandangan Plato mengenai konsep idea-idea. Ia bahkan menawarkan konsep baru yang kemudian hari dinamakan hilemorfisme sebagai alternatif bagi ajaran Plato mengenai idea-idea. Namun Aristoteles tetap berhutang budi kepada Plato.
Di bidang ilmu alam, dia orang pertama mengumpulkan dan mengklasifikasikan spesies-spesies biologi secara sistematis, menggambarkan analisis kritis dan pencarian hukum alam dan keseimbangan pada alam. Dalam logika, Aritoteles cenderung dengan sistem berpikir deduktif. Dalam penelitian ilmiah menyadari pula pentingnya observasi, eksprimen dan berpikir induktif. Di bidang politik, bentuk politik ideal adalah gabungan dari bentuk demokrasi dan monarkhi.
Pemikiran Aritoteles sangat berpengaruh pemikiran Barat dan pemikiran keagamaan lain pada umumnya. Abad pertengahan, Aristoteles tidak hanya dianggap sebagai sumber yang otoritatif terhadap logika dan metafisika, melainkan juga dianggap sebagai sumber utama dari ilmu pengetahuan, atau "the master of those who know", sebagaimana kemudian dikatakan oleh Dante Alighieri.
Aristoteles menganggap idea-idea manusia bukan sebagai kenyataan. Jika Plato beranggapan bahwa hanya idea-idealah yang tidak dapat berubah. Aristoteles justru mengatakan bahwa yang tidak dapat berubah (tetap) adalah benda-benda jasmani itu sendiri. Benda jasmani oleh Aristoteles diklasifikasikan dalam dua kategori, yaitu bentuk dan materi. Bentuk adalah wujud suatu hal, materi adalah bahan untuk membuat bentuk tersebut. Dengan kata lain, bentuk dan materi adalah suatu kesatuan.

Jumat, 17 April 2015

PLATO

Berikut akan diuraikan singkat salah seorang pemikir filosofi, siapa yang tidak mengenal atau paling tidak biasa mendengar nama tokoh yang satu ini. Bagi orang sosial tentu nama ini tidaklah asing, dia adalah Plato murid Socrates. Socrates seorang filsuf yang sudah kita bahas pada tulisan sebelumnya.
 Plato lahir dari keluarga terkemuka pada tahun 428 SM di Athena. Ayahnya Ariston dan ibunya Periktione. Ketika ayahnya meninggal, ibunya menikah lagi dengan adik ayahnya Pyrilampes (seorang politikus). Kehadiran pamannya banyak memberi pengaruh pada Plato. Selain itu dia juga banyak dipengaruhi oleh Kratylos seorang filsuf yang meneruskan ajaran Herakleitos berpendapat bahwa dunia ini terus berubah. Pergaulannya dengan para politikus, Plato memiliki, menularkan sebuah pemikiran bahwa pemimpin suatu negara haruslah seorang filsuf. Hal ini dilontarkan karena kekecewaannya atas kepemimpinan politikus saat itu. Terutama kaitannya dengan kematian gurunya Socrates.
 Plato mendirikan akademia sebagai pusat penyelidikan ilmiah dan merealisasikan cita-citanya yaitu menjadikan filsuf-filsuf  siap menjadi pemimpin negara. Akademia inilah awal munculnya universitas-universitas saat ini yang menekankan kajian ilmiah bukan sekedar reotrika.
Metode yang digunakan adalah metode dialog dan karya-karya Plato disampaikan secara lisan. Di satu sisi Plato masih mempercayai beberapa mitos yang digunakan untuk mengemukakan dugaan-dugaan hal-hal duniawi.
Inti dasar filsafat yang diajarkan adalah idea. Idea merupakan sesuatu yang objektif, adanya idea terlepas dari subyek yang berfikir. Idea tidak diciptakan dari pemikiran individu tetapi pemikiran itu tergantung dari idea-idea. Plato menerang idea itu dengan teori dua dunianya yaitu dunia yang mencakup benda-benda jasmani (sifatnya berubah dan  tidak sempurna). Idea mendasari dan menyebabkan benda-benda jasmani. Hubungan idea dan realitas jasmani melakuoi 3 cara yaitu:
 1. Idea hadir dalam bentuk-bentuk konkrit
 2. Benda konkrit mengambil bagian dalam idea, dsini Plato memperkenalkan partisipasi dalam filsafat
3. Idea merupakan model atau contoh bagi benda-benda konkrit
Plato menganggap jiwa merupakan intisari atau pusat kpribadian manusia (dipengaruhi oleh Socrates, Orfisme, dan mazhab Pythagorean). Argumen pentingnya bahwa ada kesamaan yang terdapat antara jiwa dan dan idea-idea, dengan menuruti prinsip-prinsip yang mempunyai peranan besar dalam filsafat. Dengan demikian, jiwa itu juga memiliki sifat-sifat yang sama dengan idea yaitu sifatnya yang abadi dan tidak berubah. Plato mengatakan bahwa dengan mengenal benda atau apa yang ada di dunia ini sebenarnya hanyalah proses  peringatan sebab menurutnya setiao manusia sudah mempunyai pegetahuan yang dibawahnya pada waktu berada di dunia idea  ketika masuk ke dalam dunia realitas jasmani pengetahuan yang sudah ada tinggal diingatkan  saja. Maka Plato menganggap seorang guru adalah mengingatkan muridnya tentang pengetahuan yang sebetulnya sudah lama mereka miliki. Ajaran Plato tentang etika mengatakan bahwa manusia dalam hidupnya mempunyai tujuan yang baik dan hidup yang baik dapat dicapai dalam polis. Ia tetap memihak pada cita-cita Yunani Kuno yaitu hidup sebagai manusia serentak juga berarti hidup dalam polis, ia menolak bahwa negara hanya berdasarkan romos/adat kebiasaan saja dan bukan physis/kodrat. Plato tidak pernah ragu dalam keyakinannya bahwa manusia menurut kodratnya merupakan makhluk sosial, dengan demikian manusia menurut kodratnya hidup dalam polis atau negara.
























Kamis, 09 April 2015

SOCRATES

SOCRATES
Socrates lahir di Athena pada tahun 470 SM. Socrates adalah seorang anak pemahat bernama Sophroniscos dan ibunya adalah seorang bidan bernama Phainarate. Istri Socrates bernama Xantipe dikenal sebagai seorang wanita yang judes (galak dan keras). Socrates berasal dari keluarga kaya, ia mendapatkan pendidikan yang baik. Ia pernah menjadi prajurit Athena, ia dikenal sebagai prajurit yang gagah berani. Namun, ia tidak suka terhadap urusan politik, karena itu kemudian ia berfilsafat. Ia memusatkan objek filsafatnya pada manusia. Socrates mengajarkan buah pikirannya kepada anak-anak muridnya tanpa memungut biaya apapun, tidak seperti kaum sofis.
Namun,  suatu hari ia dituduh bahwa ajarannya telah merusak moral para pemuda dan menentang kepercayaan negara. Karena tuduhan itu, ia ditangkap dan dihukum mati dengan minum racun pada umur 70 tahun (599sm).
Pemikiran  Socrates adalah tentang keutamaan moral. Sejak muda Socrates telah terlihat sifat kebijaksanaannya karena selain ia cerdas, juga setiap perilakunya dituntun oleh suara batin (diamon) yang selalu membisikkan dan menuntun kearah keutamaan moral. Pemberian pelajaran dilakukan dengan jalan dialog (tanya jawab) untuk mengupas kebenaran ilmu. Menurutnya pengetahuan sejati atau pengertian sejati sangat penting dalam keutamaan moral. Barang siapa yang memiliki pengertian sejati berarti memiliki kebajikan/keutamaan  moral berarti memiliki kesempurnaan manusia sebagai manusia.
 Socrates tidak pernah menuliskan filosofisnya. Bahkan tidak pernah mengajarkan filosofi, melainkan hidup berfilosofi. Baginya filosofi itu bukan isi, bukan hasil, bukan ajaran berisi dogma melainkan fungsi yang hidup. Ajarannya dikenal lewat catatan-catatan muridnya Xenephon dan Plato. Catatan Xenephon kurang kebenarannya, orang lebih banyak bersandar pada Plato.
Tujuan  filosofi Socrates adalah mencari kebenaran yang berlaku selama-lamanya. Menurutnya kebenaran itu tetap dan harus dicari. Beda dengan guru-guru sofis yang mengajarkan semuanya relative dan subyektif dan dihadapi dengan pemikiran skeptis. Dalam mencari kebenaran Socrates tidak memikir sendiri melainkan dengan tanya jawab, setiap kali berdua dengan orang lain. Metodenya disebut maieutik. Socrates mempergunakan pertanyaan "apa itu?" untuk mencari pengertian bentuk yang tetap daripada sesuatunya. Metode digunakan induksi dan definisi. Induksi dasar definisi. Induksi yang menjadi metode Socrates adalah memperbandingkan dengan kritis. Pengertian yang diperoleh diujikan kepada beberapa keadaan atau kejadian nyata. Apabila dalam pasangan ini pengertian tidak mencukupi maka dicari perbaikan definisi. Definisi yang dicapai diuji sekali lagi untuk mencapai perbaikan yang lebih sempurna. Begitulah cara Socrates mencapai pengertian.





















Kamis, 12 Maret 2015

Passobis sebutannya

Faktanya kehidupan ekonominya meningkat drastis. Orang mengatakan mereka kaya mendadak. Sejatinya mereka juga melalui proses perjuangan dan proses itu tidaklah pernah terlihat. Tiap hari kita menyaksikan pegawai, tenaga pendidik, pengusaha, tukang ojek, tukang bentor, petani beraktifitas mencari penghidupan. Sementara kesehariannya mereka terlihat lebih banyak santai tanpa pekerjaan alias nganggur.
Tidak dapat dipungkiri dibalik itu ada resiko yang selalu ada didepan mata. Resiko berurusan dengan aparat keamanan aparat penegak hukum sampai pada ranah menikmati ruang yang jauh dari keluarga, kawan. Kehidupan terisolasi karena tidak ada interaksi dengan masyarakat luar. Sampai pada urusan dengan Sang Pencipta.
Passobis itu sebutannya, profesi sebagai penipu via telepon/sms. Penipuan dengan jaringan professional dan memiliki keahlian komunikasi yang handal terhadap korban. Pola penipuan memanfaatkan kondisi psikologis. Penipu mampu mengendalikan korban melalui retorika yang membuat korban semakin percaya, ada tekanan waktu dan mengisolasi komunikasi korban dengan keluarga dan orang lain.
Beragam modus baik melaui Short Message Service (SMS) atau telepon langsung. Seperti memberikan kabar ada anggota keluarga kecelakaan dan harus segera dioperasi, info menang undian / mendapat hadiah dari perusahaan ternama, penghipnotisan. Satu tujuan mendapatkan materi yang banyak dari korbannya baik berupa voucher isi ulang maupun bentuk uang.
Kerja cantik dan professional dikenal kerja tim, berkelompok dan terdapat pembagian tugas.  Ada bertugas mengirimkan Short Message Service (SMS) kepada calon korban, bertugas berbicara langsung dengan calon korban, bertugas mengambil uang di bank/mesin ATM jika sudah gol. Pembagian hasil sesuai kesepakatan yang telah dibicarakan sebelum menjalankan aksinya. Seharinya mengirim ratusan bahkan ribuan sms ke calon korban. Mereka juga bisa disebut pegawai harian jika keberuntungan datang padanya. Ada saja yang jadi korban.

Mengenali kerjanya melalui ciri ada permintaan ke ATM, mentransfer sejumlah uang atau meminta membeli sejumlah voucher isi ulang, terdapat tekanan waktu batasan dalam mendapatkan hadiah tersebut dan komunikasi terisolasi dengan orang lain. Menghindari sangat mudah jangan bangun komunikasi. Sekali membuka peluang komunikasi maka semakin membuka peluang tertipu.

Senin, 09 Maret 2015

MODAL SOSIAL HADIR DALAM MEREDAM NILAI-NILAI NEGATIF PADA KOMUNITAS PEDAGANG BUGIS WAJO

Pedagang Bugis Wajo dengan watak efektif dan efisien ternyata dalam kehidupan sehari-hari ada modal sosial yang diterapkan. Modal sosial ini menjalar pada hubungan sosial yang berlangsung diantara mereka. Modal sosial yang nampak pada komunitas mereka adalah padaidi dan balireso.
Modal sosial ini menjadi jawaban atas stigma yang ditujukan kepada pedagang Bugis Wajo. Yakni pada sikap penghematan yang terjadi pada kegiatan perekonomian sebagai upaya maksimalisasi keuntungan yang memiliki kecenderungan pada nilai-nilai kapitalisme yakni nilai individualisme, nilai kebebasan, nilai produktifitas dan nilai efisien.
Padaidi dimaksudkan ada kedekatan emosional satu sama lain. Hal ini tentunya membentuk hubungan sosial yang kuat karena ada perasaan sesama saudara, sesama teman, dan atau sesama orang bugis. Bagi Orang Bugis Wajo dalam kegiatan usaha masih mengutamakan kerabat. Jika tidak ada lagi kerabat baru memanggil orang lain dalam pengembangan usaha. Pertimbangan mendahulukan kerabat karena kedekatan emosional dan keintiman. Sudah ada kepercayaan (trust) yang kuat dan kerjasama mudah terbangun karena adanya hubungan intim dan saling kenal. Seorang informan mengatakan dalam menjalan usaha tenun sutera dia memilih bekerja dengan keluarga sendiri karena merasa tidak nyaman dengan orang lain terkhusus pada pembagian keuntungan.
Padaidi bermakna kepedulian bahwa kita semua adalah satu bagian yang tidak terpisahkan. Modal sosial ini termanifestasikan pada kepedulian atau sikap saling menjaga dalam satu komunitas. Padaidi mampu meredam sikap individualistis dan mampu melahirkan semangat kolektifitas.
Kerjasama menjalankan usaha dengan anggota keluarga sendiri dengan pembagian keuntungan sesuai aturan dan kesepakatan sebelum menjalankan usaha sebagai wujud balireso. Biasanya pembagian keuntungan didasarkan pada besar modal yang ditanam dan atau peran yang dilakoni dalam kegiatan usaha pertenunan tersebut. Demikian halnya juga pada perekrutan tenaga kerja/karyawan tetap mendahulukan kerabat dibandingkan orang lain. Tenaga kerja yang dipekerjakan tetap memperoleh gaji meskipun menggunakan tenaga kerja dari kerabat sendiri. Disini nampak sikap profesionalisme yang dimiliki pengusaha tersebut.
Modal sosial memang dibutuhkan pada tiap komunitas untuk menjaga stabilitas kelompoknya. Sebagaimana Fuyukama mendefinisikan modal sosial sebagai rangkaian nilai-nilai atau norma-norma informal yang dimiliki bersama diantara para anggota suatu kelompok yang memungkinkan terjalinnya kerjasama diantara mereka. Coleman menerangkan bahwa capital social merupakan aspek dari struktur sosial serta memfasilitasi tindakan individu.
Munculnya modal sosial dalam relasi sosial ekonomi pengusaha merupakan suatu perilaku afektif. Menurut Weber perilaku afektif berkaitan dengan nilai dan jauh dari rasionalitas. Sehingga penguatan modal sosial pada kehidupan sehari-hari sangat dibutuhkan karena merupakan investasi sosial meliputi sumber daya sosial seperti jaringan, kepercayaan, nilai dan norma serta kekuatan yang menggerakkan struktur dalam hubungan sosial untuk mencapai tujuan individu/kelompok secara efisien dan efektif.

Dalam kajiannya individu memiliki dua karakter sebagaimana dalam teori dramaturgi dari Goffman bahwa kehidupan ini bagaikan panggung sandiwara, dimana kita dituntut untuk memiliki dua peran. Peran pertama adalah peran sebagai diri kita sendiri dan kedua kita berperan sesuai dengan status yang kita miliki dalam masyarakat. Ketika dia seorang pedagang maka dia akan bertindak selayaknya seorang pedagang tapi ketika dia bertindak sebagai diri sendiri maka tindakannya harus didasarkan pada hubungan emosional. Sebagai sebuah ilustrasi seorang paman akan bertindak layaknya seorang paman kepada keponakannya ketika berada pada panggung keluarga dan ketika dia berada pada panggung perdagangan maka dia akan berperan sebagai seorang agen dalam transaksi jual beli tersebut.