Senin, 20 Juli 2015

Aguste Comte: Pemikiran tentang perbedaan budaya dan masyarakat

Hasil gambar untuk budaya dan masyarakat zaman auguste comte
Aguste Comte
SosiologiUntukIndonesia.blogspot.com ----Comte melihat masyarakat sebagai suatu keseluruhan organik yang kenyataannya lebih daripada sekedar jumlah bagian-bagian yang saling tergantung, tetapi untuk mengerti kenyataan ini, metode penelitian empiris harus digunakan dengan keyakinan bahwa masyarakat merupakan suatu bagian dari alam seperti halnya gejala fisik. Andreski berpendapat, pendirian Comte bahwa masyarakat merupakan bagian dari alam dan bahwa memperoleh pengetahuan tentang masyarakat menurut penggunaan metode-metode empiris dari ilmu-ilmu alam lainnya. Merupakan sumbangan yang tak terhingga nilainya terhadap perkembangan sosiologi.
Comte dengan hokum tiga tahapnya merupakan usaha Comte untuk menjelaskan kemajuan evolusioner umat manusia dari masa primitive sampai ke peradaban Perancis abad kesembilanbelas yang sangat maju. Hukum itu menyatakan bahwa masyarakat-masyarakat (umat manusia) berkembang melalui tiga tahap utama yang ditentukan menurut cara berfikir dominan: teologis, metafisik, dan positif.
Comte menjelaskan hukum tiga tahap sebagai berikut: dari studi perkembangan mengenai intelegensi manusia, disegala penjuru dan melalui segala zaman, penemuan muncul dari suatu hukum dasar yang besar, … inilah hukumnya: - bahwa setiap konsepsi kita yang paling maju - setiap cabang pengetahuan kita – berturut-turut melewati tiga kondisi teoritis yang berbeda: teologis atau fiktif, metafisik atau abstrak, ilmiah atau positif. Pikiran manusia menggunakan tiga metode berfilsafat yang karakternya sangat berbeda dan malah sangat bertentangan. Pertama merupakan titik tolak yang harus ada dalam pemahaman manusia. Kedua merupakan keadaan peralihan dan Ketiga merupakan pemahaman dalam keadaannya pasti dan tak tergoyahkan.
Dalam fase teologis, akal budi manusia, yang mencari kodrat dasar manusia, yakni sebab pertama dan sebab akhir (asal dan tujuan) dari segala akibat (semua gejala dihasilkan oleh tindakan langsung dari hal-hal supernatural). Dalam fase metafisik, dimana akal budi mengandaikan bukan hal supernatural melainkan kekuatan-kekuatan abstrak, hal-hal yang benar-benar nyata melekat pada semua benda (abstraksi-abstraksi yang diprsonifikasikan), dan yang mampu menghasilkan semua gejala …… Dalam fase positif, akal budi sudah meninggalkan pencarian yang sia-sia terhadap pengertian-pengertian absolute, asal dan tujuan alam semesta, serta sebab-sebab gejala dan memusatkan perhatiannya pada studi tentang hukum-hukumnya-yakni hubungan-hubungan urutan dan persamaannya yang tidak berubah. Penalaran dan pengamatan, digabungkan secara tepat, merupakan sarana dan pengetahuan ini.
Dalam perkembangannya, Comte mulai khawatir akan terjadinyakehancuran basis untuk kemajuan yang mantap. Untuk mengatasi masalah dan tetap mempertahankan keteraturan sosial, dimana Comte kembali melihat sejarah dan dia mengakui agama sebagai tonggak keteraturan sosial karena agama merupakan dasar “consensus universal’ dalam masyarakat dan agama juga mendorong identifikasi emosional individu dan meningkatkan altruism. Akhirnya, Comte mendirikan suatu agama baru yakni agama humanitas yang dianggap dapat mengatasi masalah tersebut.
Pandangan Comte mengenai transisi dari masyarakat militer ke industry sudah jelas mengandung implikasi perubahan dalam kebudayaan materil. Terutama munculnya industrialism tergantung pada kemajuan teknologi, dan kemajuan dalam teknologi mencerminkan perubahan dalam kebuadayaan materil. Dimana Sorokin juga menyinggung kemajuan teknologi dan melimpahnya materi secara meningkat yang mungkin dihasilkannya. Sorokin memandang kebudayaan materil sebagai wahana perwujudan mentalitas budaya non materil. Berarti bahwa analisa tentang kebudayaan materil berkisar pada arti-arti budaya yang disimbolkan atau diwujudkan dalam bentuk-bentuk materil, seperti karya-karya seni dan arsitektur. Jelasnya bahwa Comte dan Sorokin melihat kebudayaan materil sebagai sesuatu yang bergantung pada kebudayaan non materil.


Sumber bacaan: Teori Sosiologi Klasik&Modern. Paul Johnson, Doyle. 1986.

Rabu, 08 Juli 2015

MENGHADAPI MASA DEPAN


Dalam dunia yang kian kompleks akibat perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi menyebabkan terjadinya perubahan luas dan mendasar dalam setiap aspek kehidupan manusia. Mau tidak mau, bisa atau tidak, manusia dituntut dapat dan harus beradaptasi dengan kondisi kekinian.
Tuntutan untuk terus mempertahankan diri dari cengkraman kehidupan yang kian hari kian menjekit. Yang mana pada mulanya orang berpikir kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi akan membawa kemudahan, kemakmuran dan kebahagian bagi seluruh umat manusia. Apabila kemajuan itu dipergunakan untuk kesejahteraan manusia, dimana kecanggihan teknologi mempermudah aktivitas manusia dalam kehidupan sehari-hari. Namun realitanya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi justru menimbulkan masalah-masalah baru yang sukar untuk diatasi.
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dapat merubah manusia itu sendiri. Munculnya industrialisasi mengakibatkan urbanisasi, melemahkan bahkan melenyapkan pengaruh tradisi atau adat istiadat, mengubah hubungan sosial, bahkan melenyapkan identitas diri manusia itu sendiri. Manusia tidak lagi berkuasa atas dirinya, melainkan dikuasai oleh daya-daya di luar dirinya. Manusia diukur dengan nilai uang untuk prestasinya.
Demi keselamatan dunia, manusia harus bisa, siap dan belajar untuk mengatasi segala tantangan, rintangan dan hambatan dalam menghadapi masa depan. Mempersiapkan manusia menghadapi masa depan merupakan tugas pendidikan, pihak terkait dan diri individu sendiri tentunya.
Apalagi jika melihat kondisi sekarang dimana sifat individualistik sangat jelas. Lagi-lagi kaum borjuis terus mulai nampak dan menindas kaum proletariat, jelas ini sudah terjadi sejak dulu. Segala cara dilakukan untuk meraih pundi-pundi rupiah, yang kaya semakin kaya dan miskin semakin miskin. Korupsi merajalela berbagai modus dan motif melakukan tindakan korupsi yang sudah dapat disebut sebagai tindakan kejahatan. Dan masih banyak lagi persoalan kekinian yang tak dapat disebutkan satu persatu.
Kembali pada tatanan kehidupan yang semakin kompleks, tentunya dsini manusia harus semakin jeli membaca kondisi dan terus update agar dapat bertahan diri dalam menata masa depan. Seperti yang dikutip dari Rolloy May bahwa cara paling efektif mencapai masa depan yang cerah adalah dengan menatap masa kini secara berani dan konstruktif. Bagaimana manusia bisa bertindak berani dalam menghadapi masa kini, yang tentunya berawal dari mulai bangun tidur, bahkan ada yang mengatakan bahwa sebelum tidur pun kita sudah harus memulainya, yakni mempunyai mimpi-mimpi yang akan diwujudkan hari esok. Jadi pada waktu bangun esok harinya sudah ada target yang akan dicapai pada hari ini. Nah disini menggambarkan bagaimana hari itu dimulai dengan semangat yang menggebu-gebu dalam mengawali hari karena itu akan menentukan kesuksesan target yang direncanakan.
Terus memiliki keyakinan hari ini akan ada banyak pengalaman baru daripada hari kemarin. Akan ada perjalanan yang penuh dengan kenangan. Tentunya tidak akan ada pengalaman baru tanpa ada interaksi dan komunikasi. Komunikasi pertama dilakukan dengan diri sendiri, pahami diri kita, sebenarnya hari ini kita mau apa saja dan arahnya kemana. Disini teringat perkataan seseorang disuatu tempat seperti ini hidupmu kamu sendiri yang menentukan arah dan jalan akan dilewati. Nah setelah benar-benar memahami diri kita, langkah selanjutnya adalah mempersiapkan senjata alias alat untuk mencapai target itu dan alat yang paling ampuh adalah komunikasi.
Komunikasi kedua adalah dengan orang-orang yang ada di sekitar kita. Terutama mereka yang ada kaitan dengan target yang diinginkan. Misalnya seorang yang menginginkan beasiswa, maka dekati orang-orang yang berkecimpung di dunia itu ataukah seorang yang ingin jadi kepala wilayah misalnya jadi bupati maka dia harus membangun komunikasi yang baik dengan orang-orang bisa jadi peluncurnya di lapangan, menarik simpati hati warga agar dipilih nantinya, setelah terpilih komunikasi terabaikan dan janji dilupakan, wah itu lain lagi ceritanya.
Kembali ke laptop, komunikasi yang terbangun haruslah diamati dan dipelajari hal-hal yang diperoleh ketika berkomunikasi, dan sebisa mungkin lakukan hal-hal yang sekiranya baik, Insya Allah akan mendatangkan hasil baik pula.
Menghadapi masa depan adalah hal yang semua orang bisa karena semua orang punya keberanian, hanya saja sangat sedikit orang yang bisa mengeluarkan keberanian secara keseluruhan. Jadi, yakinlah dalam diri kita bahwa kita termasuk orang yang pemberani. Usahakan ada kegiatan rutin yang menunjang dalam menghadapi masa depan, seperti membaca, menulis, komunikasi dan sebagainya. Dan itu anda sendiri yang lebih tahu. Paling penting adalah tidak muluk-muluk dalam menentukan target. Sesuaikan target itu dengan kekuatan dan kemampuan. Sedikit yang penting jalan dan terarah itu lebih baik daripada banyak tapi tidak terlaksana tidak sempurna.
Bagaimana dengan anda menghadapi masa depan? Apakah anda sudah memiliki target?

Korupsi merusak batang tubuh NKRI



Hasil gambar untuk korupsi
Korupsi sudah menjadi wabah penyakit dan ancaman bagi perkembangan kehidupan bangsa-bangsa di dunia. Seperti dikutip pendapat Sarah Lery Mboeik bahwa tindakan korupsi telah berakibat pada disharmoni dan disintegrasi bangsa, baik berdasarkan kelompok/golongan atau berdasarkan etnis dan semakin lebarnya jurang perbedaan sosial ekonomi antara berbagai lapisan masyarakat. Sedang menurut M. Mc Mullan, tindak korupsi berakibat pada tidak efisiennya pelayanan pemerintah kepada masyarakat, ketidakadilan dalam kehidupan bernegara, terjadi pemborosan sumber-sumber kekayaan negara, rakyat tidak mempercayai pemerintah dan terjadinya ketidakstabilan politik.



Pada konteks Indonesia, sebagaimana S. Anawary bahwa korupsi sudah merambah kemana-mana menggerogoti batang tubuh Negara Kesatuan Republik Indonesia dan merusak sendi-sendi kebersamaan serta memperlambat tercapainya tujuan nasional seperti yang tercantum dalam Pembukaan Undang-undang Dasar 1945. Dari sini dapat ditelaah bagaimana korupsi tidak hanya pada penyalahgunaan keuangan negara namun juga penyalahgunaan kekuasaan dan kepercayaan untuk kepentingan pribadi.

Praktek korupsi yang terjadi di Indonesia berakibat pada tingginya angka kemiskinan, melonjaknya angka putus sekolah, meningkatnya pengidap gizi buruk, dan merebaknya persoalan kriminalitas serta pudarnya nilai moral manusia itu. Korupsi yang melahirkan OKB-OKB (Orang Kaya Baru) dan kelompok pendatang baru (New Arrive) untuk memperkaya diri sendiri. Praktek korupsi berbentuk kecurangan, penggelapan, penipuan, pemerasan, nepotisme, kolusi, kroni sampai sogok atau suap.

Masih ingatkah kalian dengan Gayus Tambunan? Nama yang sontak terkenal bak artis ketika Komjen Susno Duadji menyebutkan uang di rekening Gayus dengan jumlah fantastik dan diberankas bank atas nama istrinya tersimpan perhiasan bernilai milyaran. Berawal dari kecurigaan bahwa semua uang itu haram dan melalui proses yang panjang dan berliku-liku pada akhirnya Gayus pun dinyatakan bersalah atas kasus korupsi dan suap mafia pajak oleh Majelis Hakim Pengadilan Jakarta Selatan. Tak terlewatkan sosok Gayus Tambunan ini tercipta sebuah lagu dari mantan napi Bona Paputungan berjudul "Andai Aku Jadi Gayus Tambunan". Lagu ini pun menjadi populer diberbagai kalangan.

Masih banyak lagi kasus-kasus korupsi lainya baik berskala nasional, regional sampai lokal, yang bervolume besar maupun kecil. Ada yang sudah dapat dituntaskan, ada yang masih dalam proses penyelidikan dan ada yang belum terungkap bahkan ada dengan sengaja menutup mata melihat tindakan para koruptor dengan jelas sudah  merugikan negara dan rakyat.

Contoh kecil seperti oknum pimpinan suatu lembaga/instansi memanfaatkan jabatannya menggunakan fasilitas lembaga diluar kewajaran hanya untuk keperluan pribadi dan memperkaya diri sendiri. Seperti penggunaan mobil dinas untuk acara keluarga, ataukah melebihkan anggaran kantor dan lebihnya masuk kantong sendiri. Disatu pihak mereka  merasa hormat dan takjub akan kemewahan dan cara hidup para koruptor. Namun dibalik itu ada juga merasa dongkol terhadap tingkah laku mereka yang berlebihan. Praktek kecil lain berupa pungutan dalam bentuk denda razia kendaraan bermotor oleh oknum polisi, yang tidak jelas apakah masuk kas negara atau ke kocek oknum polisinya. Namun hal ini menjadi tabuh dan hanya didiamkan saja.

Korupsi sudah ada sejak dulu dan mulai mencuat ketika sudah ada pemisahan antara keuangan pribadi dan keuangan jabatan. Maraknya kasus korupsi didukung oleh kecanggihan teknologi. Era orde baru pemerintah cukup serius menanggapi korupsi, berbagai usaha dilakukan untuk menjebloskan koruptor ke penjara. Mulai pembentukan tim pemberantasan korupsi dan penyusunan undang-undang korupsi. Nyatanya, belum mampu memberikan efek jera yang lain. Koruptor junior terus bermunculan. Mati satu tumbuh seribu, kata pepatah.

Terakhir, era reformasi dibentuk Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Masyarakat pun memberikan penilaian positif kepada kinerja KPK yang dianggap cukup profesional dalam menangani kasus korupsi. Kerjanya tegas, sistematis dan mampu mempertahankan netralitas institusi untuk tidak pandang bulu menyelidiki pejabat diberbagai tingkat yang diduga terlibat korupsi. KPK juga tak lepas dari serangan dan terus dilemahkan oleh oknum tertentu yang tak senang dengan kehadirannya. Ketika pimpinan KPK berhasil mengungkap kasus-kasus korupsi, ketika itu juga petinggi KPK dilengserkan dengan dibuatkan skenario hukum, mau tidak mau mereka harus berhenti dari jabatannya. Sebut saja mantan ketua KPK Antasari Azhar dengan kasus tuduhan keterlibatan dalam pembunuhan Nasruddin Zulkarnaen, namun masih penuh teka-teki. Ada Abraham Samad, Bambang Widjojanto, Adnan Pandu Praja, Zulkarnain, tak lepas sebagai sasaran untuk dinonaktifkan dari KPK.

Mahasiswa pun turut andil menanggapi korupsi dengan emosi meluap-luap, turun ke jalan terus meneriakkan kritik dan mengutuk perbuatan koruptor yang telah merugikan bangsa dan negara. Namun kadang disayangkan aksi mereka justru lebih banyak berakhir dengan bentrok dengan pihak kepolisian dan masyarakat sendiri, serta merusak sejumlah fasilitas umum.

Memberantas korupsi bukan hanya tugas KPK, namun semua elemen harus turut berperan aktif. Tidak hanya pemerintah yang tegas dalam menghukum koruptor. Para pembuat peraturan perundang-undangan di gedung DPR/MPR agar membuat undang-undang antikorupsi yang efektif dan tepat sasaran. Tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh pendidik harus juga proaktif mensosialisasikan bahaya korupsi. Disamping itu peran media juga sangat dibutuhkan dengan melahirkan opini ke publik agar terpanggil memerangi korupsi. Rakyat pun diharapkan tidak hanya diam melihat kejahatan koruptor, rakyat harus jeli dan tanggap dalam menyikapi penyimpangan yang terjadi.

Dengan adanya sinergi dan komitmen yang kuat dari semua lapisan masyarakat, bukan tidak mungkin negara ini akan keluar dari lembah dan belitan korupsi. Negara ini akan menjadi Indonesia merdeka yang sesungguhnya.

Senin, 01 Juni 2015

Kerangka Dasar Penelitian Kualitatif

Kerangka penelitian merupakan model atau suatu bentuk penelitian yang dimana arah penelitian akan tampak pada kerangka penelitian. Berikut disajikan bentuk daripada kerangka dasar penelitian, yang terdiri dari empat bab sebagai berikut :
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pada bagian ini berisi penjelasan mengenai mengapa masalah dikemukakan dalam penelitian yang dianggap menarik, harus jelas bahwa masalah yang diteliti belum pernah diteliti ataukah kalau masalah itu sudah diteliti maka harus dijelaskan mengapa diteliti ulang. Masalah yang diangkat harus jelas substansi permasalahannya (akar permasalahan).

B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah merupakan pertanyaan-pertanyaan atas masalah yang diangkat. Rumusan masalah merupakan hal pokok dan terpenting sebelum melaksanakan penelitian. Dengan rumusan masalah maka peneliti akan fokus terhadap hal yang diteliti karena ada batasan studi sehingga penelitian berjalan sesuao tujuan. Rumusan masalah dapat pula disebut rumusan fokus. Rumusan masalah menjadi fokus dalam penelitian itu.

C. Tujuan Penelitian
Bagian ini berisi rumusan tentang tujuan umum dan atau tujuan khusus yang ingin dicapai dalam penelitian.

D. Manfaat Penelitian
Pada bagian ingin berisi manfaat hasil penelitian baik dalam pengembangan teori maupun aplikasi. Dalam bagian ini mampu menggambarkan bahwa hasil penelitian yang akan dicapai itu memiliki konstribusi terhadap perkembangan keilmuan sesuai dengan lingkup yang dikaji dan atau jalan keluar permasalahan dalam kehidupan.

E. Asumsi
Bagian ini tidak wajib ada. Asumsi merupakan pernyataan singkat tentang hubungan antar dua variabel atau lebih dirumuskan secara operasional dan bisa diuji secara empiris.

F. Landasan Teori
Bagian ini berisi teori-teori yang relevan dengan objek atau masalah yang diteliti. Biasanya bersumber dari buku, makalah ilmiah, jurnal, makalah seminar, artikel, undang-undang, hasil penelitian, serta informasi, dari media massa dan internet.

G. Metode Penelitian Metode penelitian merupakan cara yang digunakan untuk melakukan penelitian dalam hal pengembilan, pengolahan dan pengujian atau analisis dari data yang menyangkut permasalahan penelitian. Dalam metode peenlitian berisi antara lain jenis penelitian, sumber data, teknik pengumpulan data, teknik analisis, dan tahapan-tahapan penelitian.

BAB II GAMBARAN UMUM PENELITIAN
Pada bab ini berisi deskripsi berkaitan dengan objek penelitian, seperti lokasi penelitian, karakteristik objek penelitian, dan sebagainya.

BAB III ANALISIS OBJEK PENELITIAN
Pada bab ini penggambaran analisis objek penelitian yang sesuai dengan rumusan masalah dan teori-teori yang digunakan karena dalam bab ini dilakukan pembahasan dari hasil penelitian.

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN Ini merupakan bab terakhir dalam penulisan karya tulis. Dalam bagian kesimpulan dikemukakan secara singkat hasil dari apa yang telah diteliti. Dimana harus sesuai dengan rumusan masalah yang diangkat. Dengan kata lain kesimpulan menjawab atas pertanyaan pada rumusan masalah.
Sedang pada bagian saran berisi pernyataan yang memuat tentang pesan atau , asukan kepada pihak-pihak yang terkait dengan objek kajian yang diteliti. Saran juga bisa berupa himbauan bagi peneliti lain terkait dengan hal-hal yang perlu dikembangkan.

Selasa, 28 April 2015

SOSIOLOGI SEBAGAI ILMU PENGETAHUAN

Secara terminologi sosiologi berasal dari bahasa Yunani yakni kata socius dan logos. Socius artinya kawan, berkawan, ataupun bermasyarakat. Sedangkan logos artinya ilmu atau dapat juga berbicara tentang sesuatu. Dengan demikian secara harfiah , sosiologi dapat diartikan sebagai ilmu tentang masyarakat.
Ilmu pengetahuan merupakan pengetahuan yang tersusun secara sistematis dengan penggunaan kekuatan pemikiran, yang dapat diperiksa dan ditelaah secara kritis.
Adapun syarat ilmu sebagai berikut:
1. Rasional, artinya ilmu itu adalah sesuatu yang dapat dipertimbangkan dan diterima akal, dalam hal ini yang digunakan adalah indrawi.
2. Sistematis, berarti suatu ilmu itu tersusun sesuai dengan sistem atau tersusun dengan baik.
3. Bersifat umum, bahwa ilmu itu adalah pengetahuan yang dapat diterima dan diuji oleh siapa saja.
4. Kumulatif, berarti berkelanjutan.
Mengapa Sosiologi dianggap sebagai ilmu pengetahuan?
Bagi Aguste Comte, sosiologi merupakan ilmu pengetahuan kemasyarakatan umum yang merupakan hasil terakhir daripada perkembangan ilmu pengetahuan, oleh karena itu sosiologi didasarkan pada kemajuan-kemajuan yang telah dicapai oleh ilmu-ilmu pengetahuan lainnya. Lahirnya sosiologi dicatat pada 1842, tatkala Comte menerbitkan jilid terakhir dari bukunya yang berjudul Positive-Philosophy yang tersohor itu.
Sosiologi jelas suatu ilmu sosial yang objeknya adalah masyarakat. Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang berdiri sendiri karena telah memenuhi segenap unsur-unsur ilmu pengetahuan, yang ciri-ciri utamanya sebagai berikut:
1. Sosiologi sifat empiris, berarti ilmu pengetahuan tersebut didasarkan pada observasi terhadap kenyataan  dan akal sehat serta hasilnya tidak bersifat spekulatif.
2. Sosiologi bersifat teoritis, yaitu ilmu pengetahuan tersebut selalu berusaha untuk menyusun abstraksi dari hasil-hasil observasi. Abstraksi tersebut merupakan kerangka unsur-unsur yang tersusun secara logis serta bertujuan untuk menjelaskan hubungan-hubungan sebab akibat, sehingga menjadi teori.
3. Sosiologi bersifat kumulatif, berarti teori-teori sosiologi dibentuk atas dasar teori-teori yang sudah ada dalam arti memperbaiki, memperluas, serta memperhalus teori-teori yang lama.
4. Bersifat non-etis, yakni yang dipersoalkan bukanlah buruk baiknya fakta tertentu, akan tetapi tujuannya adalah untuk menjelaskan fakta tersebut secara analitis.
Sosiologi dianggap sebagai suatu ilmu pengetahuan, dimana sosiologi sudah memenuhi kriteria atau syarat suatu ilmu sebagaimana yang diterangkan sebelumnya. Apalagi sosiologi merupakan suatu ilmu pengetahuan yang dapat dipisahkan bahkan dapat dibedakan dengan ilmu sosial lainnya. Sosiologi yang memusatkan perhatiannya pada segi-segi masyarakat yang bersifat umum dan berusaha untuk mendapat pola-pola umum daripadanya. Sementara itu, apabila ditelaah dari sudut sifat hakikatnya maka dapat ditemui untuk menetapkan ilmu pengetahuan macam apakah sosiologi itu. Sifat-sifat hakikatnya:
1. Sosiologi adalah ilmu sosial, dan bukan merupakan ilmu alam, atau ilmu pengetahuan kerohanian.
2. Sosiologi bukan merupakan disiplin yang normatif akan tetapi adalah suatu disiplin yang kategoris, yaitu sosiologi membatasi diri pada apa yang terjadi dewasa ini dan bukan mengenai apa yang terjadi atau seharusnya terjadi.
3. Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan murni, bukan ilmu pengetahuan terapan.
4. Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang abstrak, bukan ilmu pengetahuan yang konkrit.
5. Sosiologi bertujuan untuk menghasilkan pengertian-pengertian dan pola-pola umum.
6. Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang empiris dan rasional.
7. Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang umum, bukan merupakan ilmu pengetahuan yang khusus.
Kesimpulan bahwa sosiologi adalah ilmu yang kategoris, murni, abstrak, berusaha mencari pengertian-pengertian umum, rasional dan empiris serta bersifat umum.

Sumber:
- Pengantar Ilmu Sosial, Dr. H. Dadang Supardan, M.Pd., 2007.
- Sosiologi Suatu Pengantar,  Prof. Dr. Soerjono Soekanto, S.H., M.A., 2003.
- Kamus Sosiologi Antropologi, M. Dahlan Yacub.

Senin, 27 April 2015

ARISTOTELES

Aristoteles
Aristoteles lahir di Stagira, kota wilayah Chalcidice, Thracia, Yunani (dahulunya termasuk wilayah Makedonia Tengah) tahun 384 SM. Ayahnya adalah tabib pribadi Raja Amyntas dari Makedonia. Usia 17 tahun, Aristoteles bergabung menjadi murid Plato. Belakangan ini meningkat menjadi guru di Akademi Plato selama 20 tahun di Athena. Aristoteles meninggalkan Akademi tersebut setelah Plato meninggal dunia dan menjadi guru bagi Alexander dari Makedonia. Saat Alexander berkuasa di tahun 336 SM, ia kembali ke Athena. Dengan dukungan dan bantuan Alexander, ia mendirikan akedeminya sendiri yang diberi nama Lyceum, dipimpinnya sampai tahun 323 SM.
Filsafat Aristoteles berkembang pada waktu ia memimpin Lyceum, yang mencakup enam karya tulisnya yang membahas masalah logika, yang dianggap sebagai karya-karyanya yang paling penting, selain kontribusinya di bidang metafisika, fisika, etika, politik, kedokteran, dan ilmu alam.
Minat-minat Aritoteles tentang meliputi bidang alamiah dan manusia, termasuk didalamnya etika dan metafisika. Ia merupakan filsuf terkemuka dan terbesar. Asumsi ini dibuktikan berabad-abad melampaui zamannya. Sehingga tulisan-tulisannya merupakan basis filsafat alamiah hingga abad ke-17. Meskipun tetap terhindarkan adanya kesalahpahaman dan tulisannya pernah digunakan untuk menyusun dogma yang steril. Perbedaan pandangan dirinya dan Plato diawali oleh soal-soal mendasar.
Aritoteles menyatakan kritik tajam terhadap pandangan Plato mengenai konsep idea-idea. Ia bahkan menawarkan konsep baru yang kemudian hari dinamakan hilemorfisme sebagai alternatif bagi ajaran Plato mengenai idea-idea. Namun Aristoteles tetap berhutang budi kepada Plato.
Di bidang ilmu alam, dia orang pertama mengumpulkan dan mengklasifikasikan spesies-spesies biologi secara sistematis, menggambarkan analisis kritis dan pencarian hukum alam dan keseimbangan pada alam. Dalam logika, Aritoteles cenderung dengan sistem berpikir deduktif. Dalam penelitian ilmiah menyadari pula pentingnya observasi, eksprimen dan berpikir induktif. Di bidang politik, bentuk politik ideal adalah gabungan dari bentuk demokrasi dan monarkhi.
Pemikiran Aritoteles sangat berpengaruh pemikiran Barat dan pemikiran keagamaan lain pada umumnya. Abad pertengahan, Aristoteles tidak hanya dianggap sebagai sumber yang otoritatif terhadap logika dan metafisika, melainkan juga dianggap sebagai sumber utama dari ilmu pengetahuan, atau "the master of those who know", sebagaimana kemudian dikatakan oleh Dante Alighieri.
Aristoteles menganggap idea-idea manusia bukan sebagai kenyataan. Jika Plato beranggapan bahwa hanya idea-idealah yang tidak dapat berubah. Aristoteles justru mengatakan bahwa yang tidak dapat berubah (tetap) adalah benda-benda jasmani itu sendiri. Benda jasmani oleh Aristoteles diklasifikasikan dalam dua kategori, yaitu bentuk dan materi. Bentuk adalah wujud suatu hal, materi adalah bahan untuk membuat bentuk tersebut. Dengan kata lain, bentuk dan materi adalah suatu kesatuan.

Jumat, 17 April 2015

PLATO

Plato
Berikut akan diuraikan singkat salah seorang pemikir filosofi, siapa yang tidak mengenal atau paling tidak biasa mendengar nama tokoh yang satu ini. Bagi orang sosial tentu nama ini tidaklah asing, dia adalah Plato murid Socrates. Socrates seorang filsuf yang sudah kita bahas pada tulisan sebelumnya.
 Plato lahir dari keluarga terkemuka pada tahun 428 SM di Athena. Ayahnya Ariston dan ibunya Periktione. Ketika ayahnya meninggal, ibunya menikah lagi dengan adik ayahnya Pyrilampes (seorang politikus). Kehadiran pamannya banyak memberi pengaruh pada Plato. Selain itu dia juga banyak dipengaruhi oleh Kratylos seorang filsuf yang meneruskan ajaran Herakleitos berpendapat bahwa dunia ini terus berubah. Pergaulannya dengan para politikus, Plato memiliki, menularkan sebuah pemikiran bahwa pemimpin suatu negara haruslah seorang filsuf. Hal ini dilontarkan karena kekecewaannya atas kepemimpinan politikus saat itu. Terutama kaitannya dengan kematian gurunya Socrates.
 Plato mendirikan akademia sebagai pusat penyelidikan ilmiah dan merealisasikan cita-citanya yaitu menjadikan filsuf-filsuf  siap menjadi pemimpin negara. Akademia inilah awal munculnya universitas-universitas saat ini yang menekankan kajian ilmiah bukan sekedar reotrika.
Metode yang digunakan adalah metode dialog dan karya-karya Plato disampaikan secara lisan. Di satu sisi Plato masih mempercayai beberapa mitos yang digunakan untuk mengemukakan dugaan-dugaan hal-hal duniawi.
Inti dasar filsafat yang diajarkan adalah idea. Idea merupakan sesuatu yang objektif, adanya idea terlepas dari subyek yang berfikir. Idea tidak diciptakan dari pemikiran individu tetapi pemikiran itu tergantung dari idea-idea. Plato menerang idea itu dengan teori dua dunianya yaitu dunia yang mencakup benda-benda jasmani (sifatnya berubah dan  tidak sempurna). Idea mendasari dan menyebabkan benda-benda jasmani. Hubungan idea dan realitas jasmani melakuoi 3 cara yaitu:
 1. Idea hadir dalam bentuk-bentuk konkrit
 2. Benda konkrit mengambil bagian dalam idea, dsini Plato memperkenalkan partisipasi dalam filsafat
3. Idea merupakan model atau contoh bagi benda-benda konkrit
Plato menganggap jiwa merupakan intisari atau pusat kpribadian manusia (dipengaruhi oleh Socrates, Orfisme, dan mazhab Pythagorean). Argumen pentingnya bahwa ada kesamaan yang terdapat antara jiwa dan dan idea-idea, dengan menuruti prinsip-prinsip yang mempunyai peranan besar dalam filsafat. Dengan demikian, jiwa itu juga memiliki sifat-sifat yang sama dengan idea yaitu sifatnya yang abadi dan tidak berubah. Plato mengatakan bahwa dengan mengenal benda atau apa yang ada di dunia ini sebenarnya hanyalah proses  peringatan sebab menurutnya setiao manusia sudah mempunyai pegetahuan yang dibawahnya pada waktu berada di dunia idea  ketika masuk ke dalam dunia realitas jasmani pengetahuan yang sudah ada tinggal diingatkan  saja. Maka Plato menganggap seorang guru adalah mengingatkan muridnya tentang pengetahuan yang sebetulnya sudah lama mereka miliki. Ajaran Plato tentang etika mengatakan bahwa manusia dalam hidupnya mempunyai tujuan yang baik dan hidup yang baik dapat dicapai dalam polis. Ia tetap memihak pada cita-cita Yunani Kuno yaitu hidup sebagai manusia serentak juga berarti hidup dalam polis, ia menolak bahwa negara hanya berdasarkan romos/adat kebiasaan saja dan bukan physis/kodrat. Plato tidak pernah ragu dalam keyakinannya bahwa manusia menurut kodratnya merupakan makhluk sosial, dengan demikian manusia menurut kodratnya hidup dalam polis atau negara.